Rupiah terkapar di awal pekan, Senin (4/3/2024). Padahal, mayoritas mata uang di kawasan Asia cenderung menguat di hadapan dolar AS.
Sejumlah pengamat mengatakan, turunnya PMI manufaktur Indonesia yang dirilis Minggu (3/3), dinilai berkontribusi membebani pergerakan rupiah pada hari ini, meskipun masih berada di zona ekspansif.
S&P Global mencatat, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Februari 2024 berada di level 52,7. Angka ini turun 0,2 poin jika dibandingkan dengan capaian Januari 2024 yang berada di level 52,9.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup terdepresiasi 0.38 poin atau 0,24% ke posisi Rp 15.742 per dolar AS. Ini membuat rupiah menjadi yang terlemah di antara mata uang di kawasan Asia.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga lesu, seiring aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell senilai sekitar Rp 371,11 miliar di seluruh pasar.
IHSG lengser 35,15 poin atau 0,48% ke level 7.276,74 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Total volume perdagangan di BEI hari ini mencapai 20,40 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 7,51 triliun. Sebanyak 321 saham melemah, 196 menguat dan 254 saham stagnan.
Top gainers LQ45:
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 4,26%
- PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) 2,01%
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) 1,83%
Top losers LQ45:
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) -7,25%
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) -4,24%
- PT Mitra Pack Tbk (PTMP) -3,95%


Leave a Reply