Indeks Dolar AS (DXY) bergerak cukup stabil di sesi Eropa hari ini, Rabu (15/4), setelah merosot 4 hari berturut-turut.
Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat lonjakan harga energi yang dipicu perang di Timur Tengah.
Hingga pukul 16:13 WIB, DXY yang mengukur kinerja USD terhadap 6 mata uang utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF), tercatat naik 0,10% di level 98,20.

Dalam laporan terbarunya yang dirilis pada pertemuan musim semi IMF dan World Bank di Washington, IMF menyajikan tiga skenario pertumbuhan ekonomi global: skenario dasar, skenario memburuk, dan skenario parah, tergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pada skenario terburuk, IMF memperingatkan ekonomi global berada di ambang resesi. Harga minyak diperkirakan rata-rata mencapai US$ 110 per barel pada 2026 dan naik menjadi US$ 125 per barel pada 2027.
Pada skenario yang lebih optimistis dengan asumsi konflik berlangsung singkat dan harga minyak mulai normal pada paruh kedua 2026. Dalam skenario ini, harga minyak rata-rata diperkirakan mencapai US$ 82 per barel pada 2026.
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengingatkan, proyeksi tersebut bisa jadi sudah tidak lagi relevan. Gangguan pasokan energi yang masih berlangsung dan belum adanya jalan keluar yang jelas dari konflik, membuat skenario memburuk semakin mungkin terjadi.
Dalam skenario tersebut, konflik berlangsung lebih lama dan menjaga harga minyak di sekitar US$ 100 per barel tahun ini serta US$ 75 per barel pada 2027. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan turun menjadi 2,5% pada tahun ini dari 3,4% pada 2025.

Leave a Reply