Rupiah merosot tajam pada perdagangan Kamis (23/4), bahkan sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup terdepresiasi 0,61% atau 105 poin ke level Rp 17.286 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik.
Dari faktor global, kenaikan harga energi akibat konflik Iran-AS mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang, terutama negara importir energi seperti Indonesia.
Dari domestik, investor khawatir pada kondisi fiskal Indonesia.
Namun, para pengamat mengatakan, Jika perundingan AS-Iran berjalan dengan hasil yang positif dan harga minyak turun secara berkelanjutan, rupiah berpotensi pulih.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut melemah, seiring aksi jual investor asing dengan net sell mencapai Rp 978 miliar di seluruh pasar.
IHSG anjlok 2,16% atau 163 poin ke level 7.378,60 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sebanyak 505 saham melemah, 192 menguat, dan 123 saham stagnan.
Top gainers LQ45:
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) (5,88%)
- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) (5,30%)
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) (3,08%)
Top losers LQ45:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) (-10,36%)
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) (-8,70%)
- PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) (-6,29%)


Leave a Reply