Seperti diketahui, harga emas di pasar spot telah terkoreksi tajam dari level puncak US$5.598 per troy ons pada Januari 2026, menyusul aksi ambil untung (profit-taking) massal oleh investor ritel dan institusional.
Tapi ternyata, bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) masih terus melakukan pembelian emas fisik secara masif hingga akhir Mei 2026.
Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh PBoC pada 7 Juni 2026, akumulasi pembelian emas batangan ini mencatatkan rekor dan detail penting berikut:
- Rekor Pembelian Beruntun: PBoC resmi memperpanjang tren pembelian emas tanpa jeda selama 19 bulan berturut-turut hingga akhir Mei 2026.
- Jumlah Pembelian Terbaru: Di sepanjang bulan Mei 2026, China menyerap sebanyak 320.000 troy ons emas batangan ke dalam cadangan devisanya.
- Total Akumulasi Cadangan: Dengan tambahan tersebut, total simpanan logam mulia China kini mencapai 74,96 juta troy ons (setara dengan sekitar 2.331 ton).
- Tujuan Strategis: Menurut analisis pasar dari Bloomberg dan GoldSilver, aksi borong jangka panjang ini dilakukan demi diversifikasi aset untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Meskipun saat ini harga emas spot tengah tertekan di bawah US$4.500 per troy ons, aksi borong dari PBOC memberikan dampak psikologis dan struktural yang sangat krusial bagi pasar spot global:
- Menahan Kejatuhan Harga Lebih Jauh (Price Floor): Ketika investor ritel dan institusional melakukan aksi ambil untung (profit-taking) massal setelah emas menyentuh rekor tertinggi pada Januari 2026, arus keluar dana dari pasar sangat masif. Masuknya PBOC yang menyerap 320.000 troy ons hanya dalam satu bulan terakhir memberikan likuiditas besar. Kehadiran pembeli institusional skala raksasa ini mencegah terjadinya panic selling dan menahan harga emas agar tidak jatuh ke bawah level psikologis USD 4.000.
- Memisahkan Hubungan Emas dengan Suku Bunga AS: Secara historis, ketika data ketenagakerjaan dan inflasi AS menguat (seperti rilis terbaru Juni 2026 yang memicu spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga di akhir 2026), harga emas biasanya akan tertekan. Namun, karena PBOC berorientasi pada strategi geopolitik jangka panjang (de-dolarisasi) dan bukan keuntungan jangka pendek, mereka terus membeli emas tanpa memedulikan kebijakan The Fed. Hal ini memutus korelasi negatif tradisional antara emas dan obligasi AS.
- Mengubah Koreksi Menjadi Discount Zone bagi Institusi Lain: Analis pasar dari institusi keuangan global seperti JP Morgan dan ING mencatat bahwa penurunan dari USD 5.500 ke area USD 4.000 justru dilihat oleh bank sentral negara lain sebagai “diskon besar”. Konsistensi China memicu efek domino bagi bank sentral lainnya untuk memanfaatkan momentum penurunan harga (buy the dip) guna menumpuk cadangan strategis mereka.


Leave a Reply