Indeks Dolar AS (DXY) sempat bergerak naik di sesi Asia, tapi kemudian penguatannya terkikis di sesi Eropa dan sementara ini cenderung bergerak stabil menjelang pembukaan perdagangan sesi New York, Senin (23/3).
Perang Iran-AS/Israel masih terus menjadi perhatian utama pasar, di tengah kekhawatiran investor bahwa tensi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas dan belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi.
Hingga pukul 09:03WIB, DXY yang mengukur kinerja USD terhadap 6 mata uang utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF), tercatat naik 0,05% di level 99,55.

Secara teknikal pada chart Daily, DXY masih punya peluang untuk memperpanjang reli apabila bergerak di atas 99,49 (High 15 Januari).
Sementara itu, harapan untuk meredakan eskalasi geopolitik meredup selama akhir pekan. Dilaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran. Teheran kemudian membalas pernyataan tersebut dengan bersumpah akan membalas menyerang infrastruktur negara-negara tetangganya.
International Energy Agency (IEA) mengatakan krisis ini lebih buruk daripada gabungan dua guncangan minyak tahun 1970-an.
“Pasar mengikuti gagasan bahwa negara-negara dan ekonomi yang menikmati guncangan pasokan positif dari energi cenderung berkinerja lebih baik daripada negara-negara yang menderita guncangan pasokan negatif,” ujar Rodrigo Catril, seorang analis di National Australia Bank (NAB), dalam sebuah podcast seperti dikutip Reuters.
“Jadi, Anda akan melihat euro dan yen kesulitan menunjukkan kinerja yang baik. Jika konflik ini terbukti berkepanjangan, Anda akan berpikir bahwa mata uang itulah yang kemungkinan akan lebih menderita (ketimbang dolar AS),” tambahnya.

Leave a Reply