Indeks Dolar AS Berlanjut Terkoreksi Meski Dibayangi Konflik Timur Tengah

Indeks Dolar AS (DXY) berlanjut terkoreksi di sesi Eropa hari ini, Kamis (9/7), meskipun masih dibayangi kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah juga berangsur turun setelah sempat melonjak ketika militer AS melancarkan serangan baru terhadap Iran, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah berakhir.

Hingga pukul 14:33 WIB, DXY yang mewakili kekuatan USD terhadap 6 mata uang utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF) terpantau turun 0,17% di level 100,89.

Secara teknikal pada chart Daily, outlook jangka pendek/menengah masih positif.

Namun, sejauh ini DXY masih bergerak di bawah harga pembukaan bulan Juli (July Opening Price).

Sementara itu, notulen atau risalah FOMC yang dirilis dini hari tadi (WIB) cenderung hawkish.

Berikut di bawah adalah poin-poin penting dari risalah FOMC yang dirilis oleh Federal Reserve dini hari tadi:

  • Suku Bunga Tetap & Perdebatan Internal: Rapat menegaskan keputusan bulat untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Namun, risalah mengungkap adanya perdebatan internal yang sengit di antara pejabat terkait arah kebijakan ke depan.
  • Kekhawatiran Inflasi Meningkat: Para pejabat menyoroti bahwa tekanan inflasi justru semakin meluas di berbagai sektor (seperti transportasi, aviasi, dan energi). Hal ini memicu naiknya proyeksi inflasi PCE.
  • Sinyal Hawkish (Tanpa Penurunan Suku Bunga): Mayoritas anggota komite sepakat menghapus indikasi pelonggaran kebijakan. Pasar kini memproyeksikan bahwa tidak akan ada pemangkasan suku bunga hingga awal tahun 2027.
  • Peluang Kenaikan Suku Bunga Terbuka: Akibat lonjakan harga energi dari eskalasi konflik di Timur Tengah, beberapa pejabat secara terbuka menilai suku bunga perlu dinaikkan lagi agar kebijakan cukup ketat meredam harga.
  • Perubahan Komunikasi Cetusan Kevin Warsh: Di bawah kepemimpinan Ketua Baru, Kevin Warsh, Fed resmi memperpendek rilis pernyataan dan menghapus kebijakan forward guidance agar keputusan moneter murni bergantung pada data ekonomi mendatang (data-dependent).

Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *